Kisah Penjual Pisang

Saya kembali ingat penjual pisang di pinggir jalan Cipaganti, Bandung. Ini bukan kisah biasa, tapi ini kisah bisnis si penjual pisang.

Saya merenung berkali-kali. Mengapa ada orang yang begitu tekun berjualan pisang, berjenis-jenis pisang, selama puluhan tahun dengan untung yang kecil?

Apakah itu jalan hidup mereka? Atau mereka malas untuk mengubah usaha menjadi lebih canggih dari sekedar menjajakan pisang di pinggir jalan? Apakah mereka bisa mendapatkan uang yang cukup? Jika tidak, mengapa mereka bertahan?

Satu hal yang saya perhatikan dari kelompok penjual pisang di depan kantor pos Cipaganti, semua pisang yang dijual tidak memiliki standard harga. Bahkan tidak pernah ada harga yang dipasang. Jadi saya mengetes harga pisang mereka beberapa kali.

Pertama, ketika saya sendiri mengendarai motor, dan berhenti di pinggir jalan, tepat di depan lapak pisang mereka, saya membeli dua sisir pisang ambon, kadang pisang raja cereh, yang sudah dipotong dan dirangkum dalam 1 ikat. Harganya sekitar 8 ribu rupiah, dan bisa ditawar, jika kita fasih berbahasa Sunda halus.

Namun beberapa hari kemudian, ketika saya bersama istri mengendarai mobil, berhenti di depan pisang-pisang mereka, harga untuk sepaket pisang ambon dua sisir, naik 100%, walaupun bisa ditawan dan hanya bisa turun harga sedikit saja. Padahal mobil saya bukan Honda Jazz, apalagi Beemers atau Camaro. Anda bisa membayangkan berapa harga yang dipasang untuk dua sisir pisang ketika Anda berhenti di depan mereka dengan naik Pajero Sport kan?

Tidak sampai di sana, istri saya yang tidak percaya bahwa harga pisang menyesuaikan kendaraan dan penampilan pembeli, saya ajak naik motor dan membeli pisang di tempat yang sama. Hasilnya? Pisang ambon dua sisir hanya 10 ribu rupiah, dan ditawar menjadi 8 ribu rupiah, kembali ke posisi harga semula.
Mengapa bisa berbeda 2 ribu rupiah? Karena si penjual melihat istri saya bukan tipe orang yang tega menawar, dan secara psikologis, seorang suami akan mengikuti keinginan sang istri. Tapi abah penjual salah sasaran, karena saya si raja tega ketika menawar pisang dagangannya.

Kembali lagi, apakah dari 8 ribu rupiah harga jual dua sisir pisang ambon, si penjual pisang mendapat untung yang bagus? Sayapun melakukan survey berikutnya tadi sore.

Saya menemukan kios, yap, kios buah-buahan di jalan menuju daerah Polban, dan saya berhenti untuk membeli pepaya. Sekilas saya melihat seikat pisang raja cereh yang bagus, dan ternyata ada label harganya yaitu 8 ribu rupiah! Total harga yang saya bayar untuk pepaya seberat hampir 3 kilo dan pisang raja cereh adalah 19 ribu rupiah. Itupun saya menggunakan mobil bersama istri saya.

Saya jadi berpikir, 8 ribu rupiah di kios dengan lampu yang bagus dan ada cool cash di tempat itu, si bapak penjual buah pasti masih bisa mendapat untung yang bagus. Apalagi si abah di pinggir jalan yang tidak menggunakan listrik!

Sekarang, terbukalah mata dan pikiran saya. Menjual buah tanpa bandrol harga adalah sebuah kesempatan emas untuk bermain dengan harga jual! Jika 8 ribu rupiah sudah ada untung yang bisa dinikmati, bagaimana dengan harga 20 ribu rupiah untuk jenis barang yang sama?

Itu sebabnya kelompok penjual pisang hidup dalam suka dan duka selama puluhan tahun, tidak ingin mengganti profesi mereka, karena bisnis mereka sangat likuid! Ada uang ada barang, dan harganya suka suka mereka.

Saya yakin mereka mengepul pisang dari berbagai tengkulak, atau mungkin mereka sudah memiliki penyalur langganan yang selalu menyediakan stok tanpa putus. Mungkin cara mereka membeli adalah per mobil, bukan per sisir atau per tandan pisang. Membeli kulakan, dan menjual eceran.. untungnya? Bikin semaput om!

Walaupun mereka kelihatan lusuh, siapa tahu di kampung, rumah mereka real estate bertingkat dua dengan TV plasma dan komputer Macbook?

Sebuah pelajaran berharga bagi saya…

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Incoming search terms:

  • Harga pisang
  • harga pisang ambon
  • harga pisang 1 sisir
  • harga pisang kepok 2013
  • harga pisang barangan
  • harga pisang kepok
  • penjual pisang
  • harga pisang 2013
  • kulakan pisang
  • jual pisang ambon

Tagged:

Comments: 4

  1. lukman nulhakiem February 22, 2013 at 4:36 pm Reply

    Pengalama saya dulu di kampung, kadang2 kita juga punya relasi dengan yang punya pohon pisang. Jadi pada saat pohon pisang kita tidak lagi berproduksi, kita mengandalkan suplai dari pohon pisang teman.

    Jadi jangan di pikir para penjual pisang mengambil dari pada tengkulak atau pasar buah2an.

    Memang banyak suka dukanya berjualan seperti ini. Ini persis seperti para penjual barang bekas, hampir tidak ada bardol harga.

    • MH February 22, 2013 at 7:15 pm Reply

      nice info mas :) pelajaran berharga buat saya

  2. Kriswantoro Kuwarasan April 12, 2013 at 5:25 pm Reply

    Mantap sekali,..
    sangat berkesan

  3. Budi Majid April 16, 2013 at 7:09 pm Reply

    saya pikir lokasi juga menentukan keberlangsungan usaha ini, terlepas dari salah kelola atau tidak famliy saya malah gulung tikar di usaha jual pisang pinggir jalan ini :)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Have you Subscribed via RSS yet? Don't miss a post!

(Spamcheck Enabled)